Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

konsumerisme di kalangan remaja

konsumerisme-di-kalangan-anak-muda

Di zaman yang semakin maju ini, segala fasilitas dan segala hal bisa dengan mudah didapatkan, tapi sikap ini malah membentuk remaja menjadi konsumerisme.

Banyaknya produk-produk dan tawaran jasa yang menggiurkan mau tidak mau membuat para milenial semakin menggilai shopping dan berbelanja.

Konsumerisme di kalangan anak muda memang identik dengan berbelanja. Bukan hanya kebutuhan primer untuk mereka tapi juga kebutuhan tersier yang akhirnya membuat mereka menjadi penganut konsumerisme.

Denifisi singkat konsumerisme:

Konsumerisme bisa diartikan sebagai paham tentang membeli atau menggunakan barang dan jasa tidak sesuai kebutuhannya sehingga menjadi pemborosan.

Disatu sisi indonesia sedang dalam tahap pertumbuhan ekonomi yang pesat yg bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi kelas menengah.

Komposisi terbanyak yang mengisi kelas menengah adalah kaum milenial yang baru mulai bekerja atau sudah memilki income sendiri, karena mempunya pemasukan sendiri para milenial beranggapan sebagai hadiah untuk dirinya yang sudah bekerja adalah dengan membeli barang barang branded, mulai dari gadget mahal, tas mahal atau mainan mahal.

Sebenarnya alasan dibalik tindakan konsumerisme yang mereka lakukan didasari oleh banyak faktor.

INILAH BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINDAKAN KONSUMERISME REMAJA:

1. Ingin menghargai dirinya atau sebagai kado untuk dirinya yang sudah bekerja.


Di era digital ini banyak anak muda yang bukan hanya sudah bekerja dan berpenghasilan sendiri tapi banyak juga yang menjadi enterpreneur muda.

Diantaranya yang sudah bekerja, mereka akan membeli barang mewah atau barang branded ataupun travelling mahal sebagai kado atau reward bagi dirinya sendiri, mamang tidak ada yang salah dengan hal ini.

Tapi akan menjadi masalah ketika hal ini menjadi sebuah keharusan dan kewajiban sehingga mereka lupa menabung dan berinvestasi jika mendaat penghasilan.

Bahkan ingatan mereka langsung tertuju pada liburan atau membeli barang incarannya ketika gajian atau mendapat penghasilan.


2. Karena ingin menunjukkan eksistensi diri.

ini tak terlepas dari kebutuhan dasar manusia. Manusia secara mendasar memang butuh dihargai apakah oleh orang lain maupun dalam lingkungannya.

Generasi milenial mengekspresikan bentuk eksistensinya dengan menggunakan barang mahal dan barang bermerk.


3. Agar diterima di lingkaran pergaulannya

Dizaman ini para millenial sangat bergantung pada sosial circle nya. karena menurut mereka linkup sosial merepresentasikan siapa mereka. maka tak ayal hal ini juga berdampak buruk bagi mereka yang mungkin tidak mampu secara ekonomi untuk  mengimbangi teman-temannya.

Agar diterima dan dianggap sebagai sosialita atau hypebeast maka mereka harus menggunakan barang barang dari merek tertentu yang menurut mereka mewakili image mereka sebagai highclass millenial.

Menggunakan gadget keluaran terbaru dari merk terkenal menggunakan pakaian atau fashion harus merek ini, menggunakan tas harus merek anu, padahal sebenarnya mereka tak butuh barang yang branded bahkan mereka tidak mampu untuk membelinya tapi dipaksakan hanya agar diterima di lingkungan pertemananya.

Membeli barang branded atau bermerk yang tidak dibutuhkan atau tidak tahu cara menggunkannya hanya akan menambah pengeluaran dan menyusahkan diri sendiri jika membelinya dengan cara kredit. Setiap bulan capek memikirkan cicilan yang akhirnya hanya menjadi sikap konsumtif yang hanya menjadi pemborosan.


4. Pengaruh budaya digital

Tak bisa dipungkiri bahwa generasi milenial tak bisa dipisahkan dengan gadget dan akses internet, mereka juga sangat cepat dalam beradaptasi dan sarat dengan inovasi dan kreativitas.

Namun karena mereka bekerja dengan kreativitas yang tingggi dan sentihan dengan internet memudahkan mereka dalam membeli apapun yang mereka mau.

Karena begitu banyaknya tawaran dari media online baik marketplace toko online maupun email marketing yang menawarkan berbagai jasa maka akhirnya merekapun membeli barang yang tidak mereka butuhkan.

5. Dipengaruhi oleh influencer

Semakin berkembangnya sosial media melahirkan banyak influencer, yang memiliki banyak follower, bahkan para influencer juga kerap menawarkan berbagai produk dari sponsor yang disebut endorsement.

Para remaja tentu memiliki tokoh idola baik dari kalangan artis ataupun influencer, mereka pun siap membeli apapun yang di endorse oleh idola mereka.

6. Gaya hidup serba mewah

Ingin dikenal sebagai sosialita ataupun memiliki status sosial tinggi kerap kali membuat para anak muda terjebak dalam konsumerisme, mereka membeli barang branded dan mewah untuk menunjang citra diri mereka sebagai sosialita.

Gaya hidup serba mewah juga menjebak mereka membeli barang yang tidak mereka butuhkan, hanya demi mengejar prestise dan popularitas semata.

7. Belum memiliki identitas diri

Masa muda kerap kali membuat para milenial tidak tahu akan identitas dirinya, didalam masa pencarian identitas diri inilah mereka rentan terkena berbagai pengaruh.

Termasuk diantaranya adalah konsumerisme yang merupakan upaya remaja dan anak muda mencari identitas, agar diterima di sebuah kelompok yang memiliki rules tak tertulis, dengan simbol barang yang digunakan yang melambangkan identitas.

Jika ingin diterima di kelompok tersebut mereka harus mengasosiasikan diri dengan produk branded dan mahal.

8. Pengaruh budaya hypebeast

Budaya hypebeast dangat terkenal dikalangan remaja, berapa harga outfit lo menjadi pertanyaan dikalangan anak muda.

Jika ternyata memakai pakaian yang berharga murah akan dipandang remeh dan dianggap tidak modis. Begitulah ukuran remaja dalam hal fashion.

Sesorang yang hypebeast akan dianggap kekinian dan dianggap anak sultan sehingga memiliki pride lebih dibandingkan yang lain.

Maka setiap anak mudah berlomba-lomba biar kelihatan hypebeast, tak perlu barang original jika tak sanggup membeli yang KW pun banyak bertebaran. Yang penting hybeast bro!

KESIMPULAN
Di era keterbukaan informasi ini, disaat semua media sosial dan platform digital menawarkan segala akses dan berbagai hal diperoleh dengan singkat maka para remaja harus bijak dalam berpikir bertindak dan bersikap agar terhindar dari pengaruh konsumerisme yang akhirnya merugikan mereka sendiri.

Selain menanamkan mindset positif perlu juga kritis baik dalam mengambil suatu sikap penawaran dan juga kritis dalam menempatkan diri agar tidak menjadi pasar bagi para pemasar...